Manusia diciptakan dengan
berbagai macam perbedaan. Baik perbedaan secara fisik, mental maupun sikap.
Perbedaan fisik tidak dapat diubah oleh siapa pun di dunia ini. Yang mampu
melakukannya adalah Sang Pencipta. Namun, perbedaan secara mental dapat dubah
oleh manusia, bahkan tanpa bantuan dari orang lain. Demikian juga perbedaan
secara sikap dapat diubah oleh diri kita sendiri. Yang penting ada kemauan
dalam diri untuk berubah sikap.
Manusia selalu memiliki sikap
optimis dan pesimis. Sikap optimis dapat membantu manusia menjalani hidup di
dunia dengan penuh semangat. Di sisi lain, sikap pesimis pasti membuat kita
selalu takut dalam menjalani segala sesuatu yang ada di dunia ini. Oleh karena
itu, sikap optimis tentu harus kita kembangkan.
Jika kita tidak memiliki sikap
optimis, kita mungkin tidak akan berani walau hanya untuk hidup. Orang yang
optimis dalam menjalani hidup tentu sanggup menatap hidup dengan penuh harapan.
Harapan akan sesuatu yang baru. Harapan akan masa depan yang jauh lebih baik.
Optimisme membuat kita selalu kuat. Membuat kita tahan banting, meskipun
kesulitan yang datang silih berganti.
Sementara itu, orang yang selalu
pesimis dalam menjalani hidup akan terus menerus dihantui rasa takut, seperti
takut memulai, takut mencoba. Bahkan, mungkin saja takut untuk hidup.
Jika sikap pesimis menguasai
kita, kita pasti akan terseret dalam belenggu ketidakberdayaan yang kekal. Kita
tidak akan mampu melakukan apa pun. Jika demikian, kita tidak akan menghasilkan
apa-apa dalam kehidupan. Menyedihkan sekali rasanya.
“Seorang optimis menunggu sampai
tengah malam untuk merayakan tahun baru. Seorang pesimis menunggu samapi tengah
malam untuk memastikan tahun lalu sudah lewat” ~Bill Vaughan
Demikianlah artikel motivasi
tentang pesimis dan optimis yang disadur dari buku A Cup of Success karya
Yohanes Babtista. Semoga bermanfaat Description: :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar