Sabtu, 23 November 2013

Pesimis dan Optimis

Manusia diciptakan dengan berbagai macam perbedaan. Baik perbedaan secara fisik, mental maupun sikap. Perbedaan fisik tidak dapat diubah oleh siapa pun di dunia ini. Yang mampu melakukannya adalah Sang Pencipta. Namun, perbedaan secara mental dapat dubah oleh manusia, bahkan tanpa bantuan dari orang lain. Demikian juga perbedaan secara sikap dapat diubah oleh diri kita sendiri. Yang penting ada kemauan dalam diri untuk berubah sikap.
Manusia selalu memiliki sikap optimis dan pesimis. Sikap optimis dapat membantu manusia menjalani hidup di dunia dengan penuh semangat. Di sisi lain, sikap pesimis pasti membuat kita selalu takut dalam menjalani segala sesuatu yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, sikap optimis tentu harus kita kembangkan.
Jika kita tidak memiliki sikap optimis, kita mungkin tidak akan berani walau hanya untuk hidup. Orang yang optimis dalam menjalani hidup tentu sanggup menatap hidup dengan penuh harapan. Harapan akan sesuatu yang baru. Harapan akan masa depan yang jauh lebih baik. Optimisme membuat kita selalu kuat. Membuat kita tahan banting, meskipun kesulitan yang datang silih berganti.
Sementara itu, orang yang selalu pesimis dalam menjalani hidup akan terus menerus dihantui rasa takut, seperti takut memulai, takut mencoba. Bahkan, mungkin saja takut untuk hidup.
Jika sikap pesimis menguasai kita, kita pasti akan terseret dalam belenggu ketidakberdayaan yang kekal. Kita tidak akan mampu melakukan apa pun. Jika demikian, kita tidak akan menghasilkan apa-apa dalam kehidupan. Menyedihkan sekali rasanya.

“Seorang optimis menunggu sampai tengah malam untuk merayakan tahun baru. Seorang pesimis menunggu samapi tengah malam untuk memastikan tahun lalu sudah lewat” ~Bill Vaughan
Demikianlah artikel motivasi tentang pesimis dan optimis yang disadur dari buku A Cup of Success karya Yohanes Babtista. Semoga bermanfaat Description: :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar